Cerpen Tanah Air karya Martin Aleida

Post a Comment

Hatiku teduh. Dia kelihatan tenang. Cuma matanya saja yang terus memandangiku dengan ganjil. Seakan aku ini siapa, bukan istrinya. Tadi, sambil duduk berdampingan menjuntaikan kaki di tubir tempat tidur, perlahan kupotongi kuku-kukunya yang panjang, hitam berdaki. Dari tangan sampai kaki. Gemertak pemotong kuku meningkahi angin pagi yang deras dan dingin memukuli jendela.
Tanpa menatapku barang sekejap pun, seperti berbisik pada dedaunan di luar, lagi-lagi dia mengulangi igauan yang saban pagi, menjelang matahari terbit, diucapkannya seperti merapal mantra. Atau pesan yang aku tak tahu kepada siapa. “Setengah jam lagi. Begitu matahari terbit, mereka akan datang membebaskan kita,” desisnya dengan mata yang tetap saja liar, dan sepertinya aku entah di mana, tidak berada di seberang bahunya. Siapa yang akan membebaskannya? Aku tak tahu. Dan aku tak pernah mau bertanya. Tetapi, yang jelas janji akan pembebasan selepas subuh itulah yang kelihatan membuat penderitaannya lebih dalam.
Aku sama sekali tak tahu bagaimana awal kesengsaraan yang kini membelenggunya, membuat dia tidak berada dalam tubuhnya sendiri, sebagaimana dia yang kukenal sejak lebih setengah abad lalu. Dari seorang wartawan olahraga koran sore yang terpandang. Yang katanya sering mengintipku dari gerbang Tjandra Naja, dekat Jakarta Kota, saat aku pulang sekolah naik sepeda. Laki-laki peranakan yang bermata tidak sesipit mataku, tapi hatinya sungguh lapang. Dan aku merasa tersanjung, juga bingung, ketika dalam surat pertama yang dia selipkan ke dalam tasku, memuji betisku setengah mati.
Sekarang, di tempat tidur ini, dari seorang manusia, kini dia tinggal menjalani sisa hidup hanya sebagai seonggok daging tak berjiwa. Hampa. Aku tak tahu apa yang menjadi pencetus penyakitnya ini. Yang membuat matanya terkadang garang. Teramat garang. Memerah. Seperti hendak pecah. Kalau sudah begini, dia menghindar dari tatapanku, bagaimanapun manisnya aku tersenyum, dan melemparkan pandang ke luar jendela. Yang tetap bertahan adalah pernyataan kasih sayangnya sejak dulu: kalau bangkit dia tak pernah lupa membelai lututku, persis di atas betis yang katanya membuat dia kesengsem, dulu.
Dari kawan-kawannya sesama pelarian, yang tak bisa pulang karena paspor mereka dirampas penguasa baru di tanah yang kutinggalkan, kudengar dia merasa sangat bersalah. Mengutuki dirinya sebagai seorang ayah yang keji, karena tidak membesarkan, apalagi menyekolahkan, anak tunggal kami. Tak sekali-dua-kali kawan-kawannya di Tiongkok, sebelum mereka mendamparkan diri ke Amsterdam sini, memergokinya sedang membisikkan nama anaknya berulang kali, dan membentur-benturkan kepalanya ke meja makan. Juga ke tembok. Kawannya sekamar sering mendengar desis sebuah nama dan gedebuk berulang-ulang di dinding batu sementara dia masih berada di toilet.
Menurut cerita kawan-kawannya itu pula, ketika Revolusi Kebudayaan membanjir di seluruh daratan Tiongkok, dia acapkali termenung, tak percaya akan apa yang dia saksikan. Dia dengar di seluruh negeri itu seorang manusia sedang dipuja melebihi dewi Kwan Im. Suatu pagi dia terperanjat. Gemetar melihat puluhan pemuda dan tentara bertopi segi-lima, syal merah, yang sedang konferensi di satu hotel bertingkat, semuanya berdiri di beranda hotel di tingkat ke sekian, menghadap ke timur. Mereka bukannya memuja matahari, melainkan memuliakan sang penyelamat yang sedang duduk entah di mana. Lewat pengeras suara, mereka bersenandung, seperti hendak menggelontorkan matahari:
“di langit tiada dewa
di bumi tiada raja
gunung-gunung menyingkirlah
aku datang ...”
Dia bersama ratusan kawan senasib disingkirkan ke sebuah kota kecil, jauh dari Peking. Alasannya demi keamanan. Supaya tak jadi sasaran mereka yang datang dengan senjata “Buku Merah”. Dia merasa benar-benar dikucilkan, disingkirkan, dari dunia yang wajar. Dilarang keluar dari kompleks perumahan. Dari seorang yang terlatih menulis, dia menjadi pengangkut kotoran manusia untuk pupuk tanaman. Perasaannya tambah tertekan. Apalagi muncul perpecahan di kalangan mereka yang tak bisa pulang ke Tanah Air itu. Ratusan jumlahnya. Mereka bertengkar, seperti hendak berbunuh-bunuhan, karena beda pilihan keyakinan politik, antara Moskow dan Peking.
Beberapa tahun kemudian, aku menerima sepucuk surat. Melihat titimangsanya, surat itu terlambat empat bulan. Melalui perbatasan sejumlah negara Eropa, diposkan di Amsterdam. Hanya secarik kertas. Dia membujukku menjual apa saja untuk ongkos dan bertolak dari Jakarta supaya bisa berjumpa di Macao atau Kanton. Waktu itu, pekerjaan sebagai tukang jahit dan pembuat kue sudah kutinggalkan. Aku sudah memiliki beberapa bajaj dan berangan-angan menjadi pengusaha taksi supaya bisa memilih perguruan yang baik untuk anakku.
Di stasiun kereta api Kanton aku menjumpainya sedang duduk di sebuah bangku panjang. Duduk berpangku tangan. Dari rona matanya, sepertinya dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku memanggil namanya. “Ini aku…,” sapaku. Dia berdiri, memelukku erat-erat seperti hendak meremukkan tulang rusukku. Orang hilir-mudik tak dia hiraukan.
Malam pertama, dia bercerita tentang rencananya berangkat ke Belgia, yang tak lama lagi akan membuka hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Sehingga visa tinggal di negara itu diperkirakan akan mudah diperoleh. Dari negara itu, katanya, dia akan melompat ke Belanda, di mana beberapa orang temannya senasib sudah siap menampung. Aku hanya meletakkan kupingku dengan baik-baik di bahunya. Mengiyakan apa saja yang dia rencanakan. Malam kedua, ulu hatiku terasa seperti dia tonjok, ketika dia katakan ada kabar yang sampai ke kupingnya, bahwa aku sering pergi dengan lelaki. Lantas dia keluarkan sebuah buntalan kecil dari saku celananya. Dibalut kain putih, di dalamnya segumpal tanah merah yang kering.
“Ciumlah … Ini tanah Indonesia. Apa pun yang akan terjadi dia akan mempertautkan kita,” katanya lamat-lamat seraya memegangi tanganku, merebahkan kepala di bahuku. Semacam permintaan maaf atas tuduhan yang baru saja dia timpakan padaku. Katanya, tanah itu dia bawa ketika meninggalkan Jakarta menuju Kairo dan kandas di Peking.
Tak sampai lima tahun setelah pertemuan di Kanton itu. Begitulah, kalau tak salah ingatanku. Bajajku sudah selusin dan taksiku lima. Dengan bantuan pengarahan dari gereja, aku bisa menyekolahkan anakku di Australia. Dia studi teknologi informasi, keinginannya satu-satunya.
Setelah beberapa lama bermukim di Belanda, suamiku berkirim surat. Layaknya pecandu sepakbola yang ingin lawannya kalah habis-habisan, dia berteriak melalui baris-baris suratnya: “Juallah semuanya, jangan tinggalkan sepeser pun di negeri yang dikuasai fasis itu. Terbanglah kemari! Tanahmu. Tanahku, walau segenggam, menunggu di sini .!”
Tak terlalu sulit untuk memenuhi keinginannya. Ada orang-orang gereja yang siap membantu mencarikan pembeli. Juga sanak-saudara, sekalipun mereka harus mendekatiku dengan hati-hati. Cecunguk di mana-mana. Tiba-tiba, datang lagi surat dari dia. Singkat. Memerintah: jangan berangkat dulu! Keadaan tidak aman. Maksudnya apa, aku tak tahu. Tunggu kabar selanjutnya, katanya. Padahal rumah sudah terjual. Terpaksa aku mengontrak rumah selama setahun. Kabar susulan dari dia belum juga muncul selama setahun.
Aku berniat baik, ingin berbuat kebajikan kepada suami yang kucintai. Orang yang sayangnya pada anakku membuat dia dikungkung ketegangan karena merasa bersalah tidak ikut membesarkannya. Tetangga, sanak-famili boleh acuh-tak-acuh, karena takut, namun gereja membukakan pintu untukku. Walau hanya bubungan gereja kecil. Di situlah aku tinggal sambil menunggu aba-aba keberangkatan yang akan datang dari daratan impian.
Derita tak usah berpanjang-panjang. Sementara keteguhan tak boleh padam. Singkat cerita, aku mendarat di Schiphol. Dia menyambutku di pintu ke luar. Dada sesak oleh kebahagiaan. Aku dirangkulnya berlama-lama. Lantas mendorong barang bawaanku menuju kereta api.
Rumahnya agak di tepi Amsterdam. Masyarakatnya terdiri dari berbagai ras. Orang Suriname yang paling banyak. Ruang tamunya cukup lega, dua kamar tidur, lengkap dengan dapur dan kamar mandi yang memadai. Terletak di lantai delapan. Dari kawan-kawan terdekatnya, terutama peranakan, kuperoleh keterangan bahwa kesengsaraan, berupa stres yang dia tanggungkan, bertambah buruk. Apa pun aku akan dan harus menemaninya. Sebagaimana aku harus membesarkan anakku, maka aku juga harus mendampinginya walau ajal menanti.
Dia sering merenung. Matanya acapkali menerawang kosong ke luar jendela. Jarang sekali dia memulai percakapan. Hatiku melambung bahagia ketika anakku liburan dan mengunjungi kami. Ketika dia masih duduk di sekolah dasar, dengan susah-payah aku melerai kemarahannya terhadap ayah yang dia tuduh tidak bertanggung jawab, meninggalkannya. Menyia-nyiakan ibunya. Bersenang-senang di luar negeri sana.
Di meja makan. Menjelang tidur. Terkadang saat sedang belajar, kalau momennya kena, kukatakan bahwa ayahnya tidak bersalah. Tak bisa pulang membesarkan dan menyekolahkannya bukan pilihannya. Susah-payah aku menjelaskan kepadanya, bahwa ada kekuasaan yang begitu buruk rupanya, sehingga sampai hati memisahkan seorang anak tunggal dari ayahnya.
Han, sekarang sudah terbebas dari siksa di masa kecilnya. Selain penjelasan berulang-ulang yang kusampaikan, dia juga menjadi matang dengan jalan yang dia temukan sendiri. Terutama oleh dunia yang bisa dia arungi lewat Google. Bagaimanapun kekuasaan mencoba berbohong dan menutupi kejahatannya terbongkar juga di dunia maya.
Han membuat dadaku mongkok. Setelah dewasa, dia berubah dalam bersikap terhadap papinya. Suamiku yang tetap tumpul. Terkungkung dalam jiwa yang remuk. Setelah putra tunggal kami itu kembali ke Australia, ketegangan yang dialami suamiku bukannya mengendur. Bercakap-cakap di taman, di meja makan, di tempat tidur, dia tak habis-habisnya mengutuk dirinya sendiri. Karena ucapan anaknya yang masih kecil, bahwa dia bukan seorang ayah yang bertanggung jawab.
“Sudahlah . Dengarlah baik-baik. Tuduhan anakmu itu ‘kan kau dengar dari kawan-kawamu di Tiongkok ‘kan? Sama seperti kau juga dengar bahwa aku menjual diri kepada lelaki lain. Aku tak mempedulikan omong-kosong orang. Kalau kumasukkan ke dalam hati, aku bisa gila. Dengarlah baik-baik. Selama Han bersama kita di sini, dia memanggilmu Papi. Papi…! Kau ingat ‘kan? Tidakkah kau bisa menafsirkan sebutannya padamu itu sebagai tanda permintaan maaf. Bahwa kau adalah ayahnya yang baik. Bahwa kau tak pulang-pulang bukan lantaran kehendakmu.”
Tapi, dia cuma membatu. Tak bergetar. Apa yang berkecamuk di dalam hatinya, aku tak tahu. Matanya tetap nanar menatapku.
***
Hatiku terasa teduh. Dan dia kelihatan lebih tenang. Cuma matanya yang terus memandangiku dengan ganjil. Seakan-akan aku bukan istrinya. Sebentar-sebentar dia melongok ke jendela.
“Sudah potong kuku. Sudah mandi. Sudah sarapan. Kita tinggal tunggu. Nanti dokter akan datang,” bujukku. Saya pamit mau membuang sampah, menyiram tanaman di beranda, mencuci piring, dan merapikan ruang tamu.
Di beranda aku merawat taman kami yang mungil, sekitar setengah kali dua meter. Di situ kutanam rose, juga dua pohon pisang, agar Indonesia tidak terlalu jauh dari kami.
Telepon berdering. “Saya psikiater yang akan mengunjungi suami Nyonya. Apakah dia baik-baik saja?” kata yang menelepon.
“Dia baik. Baik, Dokter,” sahutku.
“Tunggu ya.”
Aku membersihkan kamar mandi. Menggosok toilet. Ketika menjinjing vacuum cleaner ke kamar tidur, aku disentak gordin yang berkibar sejadi-jadinya disapu angin. Jendela ternganga. Tempat tidur melompong. Aku berteriak memanggilinya. Tak ada jawaban. Aku lari ke kamar mandi. Dia tak ada di situ. Toilet kosong. Secepat petir pikiranku terbang. Suara orang yang menelepon, yang mengaku psikiater, tadi kayaknya mirip suaranya. Kudorongkan kepalaku keluar jendela. Memanggil-manggil namanya ke samping, ke bawah. “Di mana kau… Di mana…?!”
Kukunci seluruh ruangan. Cepat aku melangkah ke lift. Kupencet angka nol di panel. Begitu keluar dari lift, kudengar jeritan ambulans yang merapat di ujung apartemen. Beberapa orang terlihat mengerubung di sekitar jasad yang ditutup selimut. Aku tak tahu sekuat apa aku menjerit. Sebesar apa mulutku terkuak menyerukan namanya: “Ang …! Aaaang …!” Aku terjerembab di sampingnya. Jari-jemarinya masih mengepal tanah merah berbalut kain putih. Di dekatnya ada secarik kertas yang berkata: Tanah Air Indonesia. Kalau terjadi apa-apa tolong hubungi istriku, An Sui. Ini nomor teleponnya. (*)

Martin Aleida, Lahir 1943 di Tanjung Balai, Sumatera Utara, menghabiskan lebih dari lima puluh tahun usianya di Jakarta, sebagai mahasiswa, wartawan, penulis lepas. Awal 2016, selama tiga bulan, dengan dukungan sejumlah tokoh, mengadakan riset tentang kehidupan eksil Indonesia di lima negara Eropa.

Postingan Terkait

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter